Selasa, 12 Agustus 2014

Buah hati yang hiperaktif

Bunda  mana yang tidak senang bila melihat anaknya aktif dan ceria. Tapi kalau aktifnya melebihi batas kewajaran anak-anak seusianya, tentu akan membuat Ibu mulai khawatir dan kesulitan untuk menanganinya. Misalnya, saat ingin diberi makan anak selalu berlarian kesana kemari tidak bisa diam, kerap berlompatan ke segala arah tak kenal lelah sampai Ibu kewalahan mengejarnya. Melihat anak yang aktif tingkat tinggi seperti itu, mungkin Ibu menjadi sering memarahinya, membentak, atau bahkan melakukan hukuman fisik (misal: mencubit) agar anak menjadi diam atau tenang.

Tapi Ibu, sebenarnya tindakan seperti itu bukan solusi yang baik. Bagaimanapun direpotkannya kita, anak tidak pernah berniat jahat dengan tindakannya seperti itu. Mereka hanya berekspresi dan menganggapnya sebagai aktivitas yang wajar dan menyenangkan hatinya. Sehingga kasihan sekali kalau dibentak atau dihukum.

Agar dapat bertindak lebih tepat terhadap sikap aktif yang berlebihan atau hiperaktif sang buah hati, ada baiknya kita mengetahui tiga tipe dari hiperaktif sebagai berikut:
1. Tipe hiperaktif implusif
Anak yang mengalami hiperaktif implusif biasanya lemah dalam merespon. Perilaku implusif ditandai dengan melakukan sesuatu yang sulit untuk dikendalikan, seperti terlalu enerjik, lari ke sana ke mari, melompat seenaknya, memanjat-manjat, banyak bicara dan berisik. Selain itu, ia juga biasa melakukan segala sesuatunya tanpa pertimbangan dan sering kali ditunjukkan ketidaksabaran.
2. Tipe hiperaktif inatensi
Biasanya anak dengan hiperaktif seperti ini tidak mampu memusatkan perhatian secara utuh, tidak mampu mempertahankan konsentrasi. Selain itu, mudah beralih perhatian dari satu hal ke lain hal, sering melamun, sulit diajak berbicara atau menerima instruksi karena perhatiannya terus berpindah-pindah, pelupa dan kacau.
3. Tipe hiperaktif kombinasi
Biasanya anak kurang memperhatikan aktifitas dan mengkuti permainan atau dalam menjalankan tugasnya karena perhatiannya mudah terpecah. Selain itu, sering berubahnya pendirian yang ada di diri si anak, dan dalam melakukan sesuatu selalu aktif secara berlebihan.

Nah, bila Ibu memiliki anak hiperaktif, beberapa kiat tersebut mungkin bisa diterapkan:
• Berusaha lebih tegas kepada anak
Ajarkan disiplin pada anak hiperaktif, agar ia dapat mengatur dirinya dengan baik. Dengan cara bagaimana? Yakni memberitahu si anak bahwa Ibu tidak menyukai beberapa tingkah lakunya. Selain itu, Ibu juga bisa melibatkan anggota keluarga untuk menjaga anak secara ketat dan tegas. Namun Ibu, berindak tegas bukan berarti kita lantas sering menghukumnya secara fisik ya. Tetap perlihatkan bahwa Ibu melakukannya karena sayang padanya.
• Disiplin
Sebaiknya Ibu mulai mengajak anak untuk menerapkan pola hidup disiplin. Ibu bisa memberi contoh terlebih dulu, jadikan Ibu sebagai role model (pelaku) agar si anak bisa mengikuti pola hidup disiplin yang sudah Ibu buat. Aturan ini tentu akan membuat si anak lebih fokus pada aturan-aturan yang Ibu berikan. Dalam mengajari anak tentang pola disiplin, jangan bosan untuk terus-menerus mengulangi hal-hal yang dengan cepat dapat dipelajari dan diingat oleh anak normal.
• Menciptakan kegiatan kreatif
Kesibukan orangtua seringkali membuat anak menjadi kurang perhatian. Karena itu luangkan waktu buat anak. Misalnya, mengajak dia melakukan kegiatan kreatif seperti membaca buku, melukis atau menyanyi. Kegiatan ini bisa menenangkan anak yang hiperaktif. Selain itu, ibu juga bisa mengajaknya pergi ke taman agar dia bisa menikmati waktu bermainnya.
• Mengajaknya Berolahraga
Ibu bisa mengajak si buah hati berolahraga selain berguna untuk menyehatkan tubuh juga bisa mengurangi hiperaktif. Salah satu olahraga sederhana yang dapat dilakukan adalah senam di rumah dengan diiringi musik.


Senin, 04 Agustus 2014

Sikecil yang suka memukul

Bunda... pernahkan Anda marah karena ulah anak suka memukul temannya? Memarahi si kecil mungkin dilakukan untuk memberikan efek jera agar ia tidak melakukannya lagi. Hal yang perlu Anda ketahui adalah perilaku anak biasanya merupakan upayanya untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya.

Tapi mengapa harus memukul? Anak yang masih balita, terkadang memang mengeluarkan perilaku agresif seperti menggigit, menendang, mencakar, sampai memukul. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan keinginannya yang tidak terpenuhi atau merasa tidak aman.

Dengan perbendaharaan kata yang masih terbatas, maka tidak heran jika si kecil mengungkapkannya melalui perilaku. Para ahli mengatakan, memukul merupakan reaksi alami ketika seseorang merasa marah atau kesal. Begitu pula yang dialami oleh balita Anda.

Tapi jangan sampai membiasakan si kecil dengan perilakunya tersebut. Bisa-bisa si kecil hanya tahu memukul untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Hal ini tentunya akan berdampak pada sekitarnya. Bisa saja ia jadi dijauhi oleh teman-temannya.

Jika Anda mendapati si kecil suka memukul, jangan Anda justru memukul atau membentaknya. Berilah nasehat saat ia hendak memukul temannya, katakan Anda tidak suka dengan perilakunya. Alihkan perhatiannya.

Cobalah bicara dari hati ke hati dengan si kecil. Saat ia tenang, tanyakan apa yang kerap kali membuatnya marah dan memukul temannya. Ajari ia untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya dengan kata-kata, bukan pukulan.

Dampingilah setiap kali si kecil bermain. Perhatian Anda akan membantunya menjadi anak yang baik. Hindari memukul anak untuk membuatnya jera. Karena hal itu bisa saja dijadikan contoh anak suka memukul temannya.