Selasa, 22 Juli 2014

Puasa dan tumbuh kembang anak

 


Menjalani puasa di bulan Ramadan, semangat berpuasa biasanya tidak hanya dirasakan orang dewasa tetapi juga anak-anak kecil. Mereka ikut bergembira menyaksikan orangtuanya berpuasa serta turut menikmati momen kebersamaan saat sahur dan berbuka.
Bagi orang tua, semangat tersebut adalah kesempatan emas untuk mulai mengenalkan puasa pada anak-anak. Karena puasa memberi dampak positif dalam melatih kesabaran, disiplin dan mengendalikan diri. Namun, banyak kekhawatiran muncul apakah sang buah hati sudah cukup kuat untuk berpuasa dan tidak terganggu tumbuh kembangnya?

Prof. Dr. Hardinsyah, Ahli Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), mengatakan bahwa berdasarkan ilmu tumbuh kembang, fisik anak sudah mampu dilatih untuk berpuasa ketika sudah masuk Taman Kanak-Kanak (TK) atau sekitar usia 5 tahun.
Aktivitas motorik anak memang menguras energi. Namun, selama gangguan kesehatan atau penurunan berat badan yang sangat drastis tidak dialami anak, menurut Hardinsyah tidak masalah dan anak dapat terus dilatih puasa. Asalkan tetap diperhatikan pemenuhan nutrisi anak secara maksimal dan tidak memaksa mereka untuk berpuasa.

Latih dengan Kreatif
Agar ibadah puasa terasa menyenangkan bagi anak, kreatifitas orangtua dibutuhkan misalnya dalam menyajikan menu makanan favorit anak saat sahur, saat menyiapkan makanan berbuka puasa atau ketika menyambut datangnya Ramadan dengan membuat dekorasi di rumah. Kegiatan-kegiatan kreatif ini dapat memancing keingintahuan anak untuk bertanya. Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan orangtua untuk mengenalkan Ramadan dan menjelaskan makna puasa. Namun jika anak belum ikut berpuasa, pengenalan puasa dan ramadan dapat dilakukan dengan melibatkan mereka dalam kegiatan ibadah yang dilakukan saat bulan Ramadan.
Agar puasa tidak terasa berat pada anak, ciptakan juga kegiatan menarik yang tak menguras tenaga. Misalnya, mewarnai, menyusun puzzle, membaca buku cerita, dan sebagainya.

Latih Secara Bertahap
Agar anak terbiasa puasa, ajarkan untuk puasa secara bertahap. Misal, di minggu pertama anak hanya puasa beberapa jam. Minggu selanjutnya, latih berpuasa sampai setengah hari dan dilanjutkan berpuasa hingga waktu berbuka. Setelah anak makin dewasa dan terbiasa puasa, berikan rentang waktu berpuasa lebih lama pada anak. Bila anak belum ingin melakukannya, jangan memarahi mereka. Berikanlah semangat seperti memberi pelukan dan pujian saat anak berhasil bangun pagi untuk sahur. Hal ini akan memotivasi anak untuk berpuasa di hari berikutnya. 
Selamat menyambut bulan Ramadan.

Kamis, 10 Juli 2014

Puasa dan pendidikan karakter anak



Ketika pemerintah tidak atau belum dirasa memenuhi keinginan setiap keluarga untuk melahirkan generasi berkualitas, tidak salah untuk melakukan pendidikan secara mandiri. Pada bulan Ramadhan, saat ada kewajiban berpuasa, adalah momen tepat untuk menanamkan moralitas kepada mereka. Sebab, dalam puasa ada pesan moral yang mampu membentuk seorang anak menjadi manusia sopan, disiplin, jujur, berani, dan peduli ketika berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kelak, ketika mereka telah terbiasa melakukan puasa-kalau puasanya tulus dan ikhlas-pembangunan bangsa yang paradoks itu bisa diubah ke arah yang lebih memihak anak-anak. Mengajak berpuasa
Maka, ajakan berpuasa kepada anak harus mengasyikkan dan tidak membebani. Kendati anak tidak diwajibkan berpuasa, untuk membentuk keluhungan pribadinya tidak salah mengajak mereka berpuasa. Akan tetapi, hal itu harus disesuaikan dengan takaran kemampuan fisik dan psikis anak. Satu cara agar mereka bisa melaksanakan ibadah puasa adalah membatasi waktu berbuka bagi mereka secara bertahap.
Dalam satu hari, misalnya, mereka dibebaskan untuk berpuasa sampai pukul 12.00 dan pada hari lain bisa lebih panjang waktunya daripada hari-hari sebelumnya. Sebagai orangtua, kita juga mesti mengetahui perkembangan usia anak. Dengan demikian, kita dapat mengetahui batas waktu berbuka bagi anak-anak kita sehingga takaran berpuasa bagi mereka diketahui secara tepat. Untuk mengetahui seberapa kuat ketahanan fisik mereka, kita bisa menggali informasi dari buku, majalah anak, koran, dan internet.
Pengetahuan tentang karakteristik fisik dan psikis anak itu akan menjadi bekal bagi pembiasaan puasa sehingga ke depan mereka bertahap menunaikan kewajiban sebagai umat Islam. Misalnya, bagi anak usia 5-7 tahun, puasa tidak bisa dipaksakan harus tamat selama sebulan penuh. Bagi mereka, ada keinginan untuk berpuasa saja sudah merupakan keberhasilan menanamkan kesadaran beragama. Jadi, tidak arif rasanya apabila mereka dibebani harus selesai sampai akhir (maghrib) dan menamatkan puasa selama sebulan penuh.
Agar mereka bersemangat dalam berpuasa, dianjurkan untuk memberikan hadiah yang berfungsi menumbuhkan kesadaran beragama sejak usia dini. Di samping itu, memberikan penjelasan seputar keutamaan puasa juga bisa menggugah mereka untuk menunaikan puasa. Caranya bisa dengan membacakan kisah-kisah teladan nabi, sahabat, dan tokoh yang berjasa bagi agama dan negara. Selain itu, mereka juga bisa diajak menghadiri pengajian khusus untuk anak-anak.
Kalau mereka mendapatkan bimbingan intensif seputar nilai-nilai kebaikan puasa, secara tidak langsung kesadaran agama mereka akan meningkat. Hal ini akan melahirkan kekuatan dalam diri mereka untuk menyelesaikan ibadah puasa sampai maghrib. Maka, yang terpenting dalam menanamkan moral dalam diri anak adalah ajakan berpuasa dilakukan tanpa pemaksaan. Utamanya, jangan menggunakan kekerasan yang akan mengakibatkan mereka merasa tertekan dan terbebani dengan praktik puasa. Ini akan memunculkan kepribadian paradoks, oportunis, atau munafik pada masa dewasa nanti.
Kita tahu bahwa dalam perspektif fikih tidak ada beban kewajiban berpuasa bagi anak-anak dan pemaksaan dalam ajaran Islam adalah sesuatu yang dilarang Tuhan (la iqraha fi al-din). Ketika mereka telah dibiasakan berpuasa sejak dini, saat dewasa nanti mereka akan melaksanakan ibadah puasa secara tulus dan ikhlas. Hasilnya, semoga dapat terbentuk moral yang mulia (al-akhlaq al-karimah) dalam diri mereka kelak.

Senin, 07 Juli 2014

Mendisiplinkan anak puasa sejak dini





Bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan penuh keutamaan bagi umat Islam di dunia, bisa dijadikan moment yang tepat untuk pendidikan disiplin dan akhlak anak sejak dini. Bunda melatih anak puasa, sebagai pendidikan kedisiplinan dan keagamaan di dalam lingkup keluarga. Keluarga merupakan landasan dasar tempat anak belajar baik dari perilaku maupun bimbingan orangtua. Anak merupakan penerus bagi kehidupan bangsa. 

Pendidikan akhlak dan karakter anak sebaiknya mulai distimulasi sejak dini oleh orangtua.
Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, bulan Ramadhan akan benar-benar terasa kekhusyu’an umat Islam dalam menjalankan ibadahnya. Dengan didukung oleh lingkungan masyarakat yang sedang gencar melakukan ibadah, orangtua bisa menerapkan pendidikan akhlak dan agama di dalam lingkup rumah. Menanamkan kesadaran anak puasa Ramadhan dapat dimulai secara bertahap dan menyenangkan. Dengan mengajarkan anak puasa sejak dini, mereka akan terbiasa menjalankan ibadah puasa sebagai sebuah kebiasaan dan bukan lagi menjadi tekanan. Hal ini akan bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan spiritual anak di masa mendatang.

Bunda, mendisiplinkan anak puasa sejak dini bukanlah sebuah kekerasan Ini merupakan pelajaran kedisiplinan tentang nilai-nilai keagamaan. Melatih anak puasa Ramadhan tidak sama dengan mewajibkan mereka berpuasa. Bahkan di dalam Islam sendiri telah disabdakan oleh Rasul-Nya: “Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak-anak yang belum baligh”.

Dalam melatih anak puasa, orangtua harus mempertimbangkan kondisi dan kemampuan mereka. Telah jelas bahwa Islam sendiri tidak menghendaki adanya unsur paksaan dalam mendidik anak. Jadi orangtua akan memberikan motivasi kepada anak-anak dalam cara mendisiplinkan mereka seperti halnya melatih dalam melatih anak puasa Ramadhan.



Kamis, 03 Juli 2014

Manfaat puasa bagi tumbuh kembang anak





Puasa dapat melatih anak untuk mengendalikan emosi. Mendidik anak untuk disiplin, jujur dan melatih lebih sabar karena harus menahan haus dan lapar pada waktu tertentu. Para ahli berpendapat bahwa puasa juga dapat membangun rasa empati pada anak. Dengan berpuasa, anak akan belajar untuk lebih menghargai makanan dan memahami serta berempati kepada saudara-saudaranya yang mungkin tidak bisa makan setiap hari. Selain itu, selama bulan Ramadhan orang tua juga dapat melatih anak untuk beribadah lain seperti shalat berjamaah, mengaji bersama, hafalan doa dan sebagainya. Berpuasa juga bermanfaat menyeimbangkan fungsi tubuh, terutama sistem pencernaan. Dengan berpuasa, tubuh mengalami detoksifikasi dan membuang racun-racun dalam tubuh dan membersihkan alat pencernaan.

Berpuasa juga akan membuat anak menjadi lebih sehat karena konsumsi jajanan tidak sehat berkurang, pola makan akan teratur dan nilai gizinya lebih diperhatikan oleh orang tuanya. Terkait waktu yang tepat untuk mengajarkan berpuasa bahwa mengajarkan anak berpuasa bila sudah siap secara fisik dan mental tanpa ada paksaan dan dilakukan secara bertahap.  anak sebaiknya dapat mulai dilatih berpuasa saat berusia enam hingga tujuh tahun. Meskipun dari segi kesehatan, tidak ada patokan baku kapan seorang anak mulai mampu berpuasa.

Menurut staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Unpad Bandung Prof dr Dedi Soebardja Sp.A mengatakan seorang anak dapat mulai dilatih berpuasa sejak mengetahui mana yang boleh dan tidak, serta mulai bisa bersosialisasi. Biasanya, kemampuan itu dicapai anak saat berusia enam atau tujuh tahun. Selain itu, Wanda mengatakan latihan puasa dapat dilakukan ketika anak telah melewati masa balita. Mengingat pertumbuhan otak yang optimal berlangsung selama masa balita, latihan puasa mulai dapat diterapkan ketika anak telah melewati periode tersebut.