Sabtu, 21 Juni 2014

Buah hati Hiperaktif




Bunda ada dua ketakutan yang menyangkut buah hati anda, autis dan hiperaktif. Jika anaknya terkena autis, ibu akan sangat gugup karena anaknya tak fokus, cenderung pendiam dan sulit. beradaptasi. Jika hiperaktif malah gelisah karena anaknya susah dikendalikan. Padahal, rata-rata anak autis dan hiperaktif punya kecerdasan yang luar biasa.

Bunda, m
engelola anak hiperaktif memang butuh kesabaran yang luar biasa, juga kesadaran untuk senantiasa tak merasa lelah, demi kebaikan si anak. Anak hiperaktif memang selalu bergerak,
nakal, tak bisa berkosentrasi. Keinginannya harus segera dipenuhi. Mereka juga kadang impulsif atau melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Gangguan perilaku ini biasanya terjadi pada anak usia prasekolah dasar, atau sebelum mereka berusia 7 tahun.

Bunda
cemas dan gugup...tentu, tapi jangan takut. Kami punya solusinya....

Periksakanlah buah hati anda
.
Bunda, tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa Anda lakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap Anda. agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Di sini biasanya para ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.

Pahamilah Buah hati anda
.
Bunda,untuk bisa menangani buah hati anda yang hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya, frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti layaknya orang-orang normal lainnya.

Latihlah
kefokusannya.
Bunda, jangan tekan dia, terima keadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan berikan dia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.

Telatenlah menghadapinya
.
Bunda, jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.  Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar.
Jika empat fase di atas telah dapat Anda lewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak Anda sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu Anda dalam menjaganya. Dan kini, masukilah tahap berikutnya, bagaimana Anda harus bekerjasama dengan dia.

Bangkitkan
kepercayaan dirinya.
Bunda, jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.
Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya. Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda berada di titik stabil, sehingga dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat, anak hiperaktif rata-rata
juga sangat sensitif.

Kenali
arah minat dan bakatnya.
Bunda jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini. Dengan begitu, Anda bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.

Mintalah
dia bicara.
Bunda, ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan. Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati

Siap bahu-membahu.
Bunda, jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.

Buah hati  Anda mengidap hiperaktif. Dia tak berbahaya, hanya butuh Sentuhan dan Perhatian yang lebih dari anda. Jika itu dia dapatkan, yakinlah buah hati akan berubah jadi Jenius yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia.

Senin, 16 Juni 2014

Bila Balita Anda Senang Teriak




Bunda Berteriak pada usia batita, bisa merupakan salah satu bentuk komunikasi agar anak mendapat perhatian orangtua dan lingkungannya. Ini wajar, karena anak usia batita belum memiliki banyak pengalaman bagaimana cara menarik perhatian orang lain. Berteriak juga dapat merupakan cara untuk mengeluarkan perasaan dan ekspresi keberanian anak dalam menunjukkan kemampuan bicara yang sebelumnya tak dimilikinya. 

Bunda, jeritan balita menyaingi lengkingan penyanyi rock. Meski Anda berada di dekatnya, tetap saja balita memilih berteriak saat memanggil mamanya. Tak kenal watu, balita kerap berteriak-teriak. Anda jadi tidak sabar menghadapinya.

Untuk Menarik perhatian. Balita usia 2 tahun mulai lancar berbicara. Dia merasa perlu menunjukkan kemampuannya. Apalagi kalau bukan dengan berteriak. Dia juga sering berteriak untuk menarik perhatian orang lain saat ingin menyampaikan perasaan dan pikirannya, ini terjadi karena dia belum tahu cara menarik perhatian orang lain dengan benar, yakni dengan berbicara baik-baik.
Balita menggunakan teriakan itu sebagai sarana bereksperimen sejauh mana suaranya dapat didengar orang lain. Dia juga belajar mengontrol volume suara dan tinggi rendah nada. Dan tentunya kegiatan yang menyenangkan dan menghibur bagi dirinya. Namun Anda tak perlu khawatir, sebenarnya hal tersebut masih wajar. Seiring bertambahnya usia, kemampuan komunikasi anak meningkat dan kebiasannya berteriak-teriak pun akan berkurang.

Jangan balas Teriakannya. Satu hal yang harus Anda perhatikan, jangan pernah membalas teriakan balita dengan teriakan juga. Apalagi membentak menyuruhnya diam. Dia justru akan berteriak lebih keras lagi. Anda harus memberi pengertian pada balita 2 tahun untuk berhenti berteriak-teriak. Ucapkan dengan kalimat yang jelas dan dengan nada yang lembut. Misalnya, “ Tidak perlu teriak, Bunda juga sudah dengar, kok. Nanti tenggorokannya sakit.”
Anda jangan pernah menanggapi keinginan anak bila dia memintanya sambil berteriak. Selalu minta balita untuk berkata secara santun, barulah Anda penuhi keinginananya. Tak lupa beri pujian kalau balita sudah tidak berteriak-teriak lagi.

 

Sabtu, 14 Juni 2014

Menyikapi Pertengkaran Adik-Kakak




Ketika Fikrah sedang asyik bermain dengan mainan barunya, tiba-tiba Ahza adiknya, merebutnya dengan paksa. Fikrah berusaha mempertahankan mainannya tetapi Ahza pun tetap ngotot mencengkeramnya. Karena jengkel, sang kakak pun ambil jalan pintas dengan memukul adiknya keras-keras.  Fikrah tentu tak bisa disalahkan bila mempertahankan mainannya sekuat tenaga. Sedangkan Ahza pun, dalam kaca mata orang dewasa dianggap tak salah karena memang belum mengerti. Sifat egosentrisnya masih terlalu besar sehingga ingin memiliki barang apa saja yang mereka sukai. Akan tetapi di mata kakaknya yang juga masih kecil, adiknya jelas-jelas salah karena merebut mainan miliknya. Anak sekecil fikrah belum paham terhadap  sifat egosentris  yang dimiliki adiknya, bahkan juga masih dimilikinya. Yang ia pahami bahwa mainan itu adalah miliknya dan ia berhak mempertahankannya.  

Menghadapi hal tersebut, kadang bunda tak tahan dengan tangis adik, kemudian langsung menyuruh kakaknya mengalah.Kebijakan seperti itu jelas berat sebelah, karena kurang menghargai pola pikir kakak yang masih kecil juga. Jika bunda memaksa kakak untuk selalu mengalah, banyak akibat negatif yang akan terjadi, seperti: 
  •  Kakak merasa dirinya tak memiliki harga diri di mata bunda. 
  • Adik tak pernah belajar mengetahui hal yang benar. 
  • Kakak menyimpan dendam pada adik dan membalasnya nanti jika ada kesempatan.
  • Jika terjadi perkelahian lagi, adik cenderung mengandalkan tangisnya untuk mengadu kepada bunda agar dibela.

Lalu, bagaimana tindakan yang seharusnya dilakukan oleh ibu/orang tua. Bunda yang bijaksana akan mencoba memahami pertengkaran ini dengan melihat persoalan dari kaca mata kedua pihak, yaitu dengan memahami bagaimana perasaan adik, juga perasaan kakak.

Beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya:

Jangan Salahkan Satu Pihak
Memang kakak bersalah karena memukul adiknya keras-keras, dan adik pun salah karena merebut mainan yang bukan miliknya. Karena itu, jangan hanya menyalahkan salah satu pihak. Jika bunda sedang emosi, lebih baik ibu menahan diri dengan diam.  Jika tidak  kuat diam, menyalahkan kedua pihak sekaligus masih lebih baik daripada hanya menyalahkan salah satunya. Pertengkaran kakak dengan adiknya adalah satu perkembangan wajar, sesuai dengan fase perkembangan psikologis mereka. Sangat sulit untuk menemukan siapa sebenarnya yang menjadi biang keladi pertengkaran, karena semua merasa benar. Apalagi pola berpikir ibu, kakak, dan adik sangat berbeda, sesuai dengan fase perkembangan usia. Jadi arti kebenaran menurut kakak, adik, serta ibu pun kerap berbeda. Maka adalah sulit untuk menemukan siapa yang salah, dan tindakan itu pun tak perlu dilakukan.

Jangan Paksakan Kakak untuk Selalu Mengalah
Kakak juga masih kecil, maka pola berpikirnya yang menganggap adiknya salah pun harus dipahami. Tentu tak adil jika menyuruhnya untuk selalu mengalah. Hal itu akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan jiwanya, karena  merasa  tidak pernah mendapatkan keadilan.

Hargai Jika Kakak Benar
Kita tentu akan sakit hati, bila merasa benar tetapi disalahkan oleh orang lain. Sulit sekali menerima hal itu dengan lapang dada. Apalagi jika orang menyalahkan kita  dengan cara memaksa. Karena itulah, bunda juga harus memahami, kakak pun mempunyai hak untuk mempertahankan mainannya. Perkara dia mau meminjamkan mainannya kepada adik, itu
tergantung kebaikan hatinya. Jangan menyalahkan kebenaran yang diyakini kakak, tetapi sentuhlah empati sang kakak untuk mau berbaik hati kepada adiknya. Kebenaran yang diyakini kakak harus ibu akui. Contohnya dengan berkomentar, “Sayang, kenapa merebut mainan kakak, kalau adik mau pinjam, bilang dulu sama kakak yaa.”  Dengan penghargaan seperti itu, berarti ibu sudah menghormati harga diri sang kakak. Ini memiliki arti yang sangat besar pada psikologis kakak. Karena merasa dirinya dihargai, selanjutnya ia justru lebih mudah menerima pendapat orang lain, lebih mudah memahami perasaan adiknya, dan lebih lanjut akan tumbuh empatinya. Sebaliknya, jika kebenaran yang diyakini kakak disalahkan oleh bunda, jangan harap kakak mau menerima kata-kata bunda selanjutnya. Apalagi kakak sedang dalam keadaan emosi. Karena merasa dirinya benar tetapi tidak diakui, kakak merasa perasaannya tidak dipahami, sehingga ia semakin jengkel. Kalaupun ia menurut untuk mengalah, itu ia lakukan dengan sangat terpaksa.

Tunjukan ketidakmengertian sang adik
Jika bunda telah berhasil menghargai pendapat yang diyakini kakak, jangan lupa pula untuk menghargai pendapat yang diyakini adik. Kalau adik meyakini bahwa setiap barang yang ia sukai harus ia dapatkan, itu bukanlah pendapat yang salah untuk usianya. Jadi, bunda pun tak bisa serta merta menyalahkan adik. Lebih baik ajaklah kakak untuk mau memahami ketidakmengertian adiknya tersebut. Ini akan mudah dilakukan jika emosi kakak sedikit mereda setelah ibu bisa menghargai perasaannya. Kepada kakak bisa diberi pengertian, “Adik kecil itu memang belum mengerti, Sayang. Ia selalu ingin merebut yang dia inginkan. Dulu waktu kamu masih kecil juga suka begitu.Kita nasihati saja dia pelan-pelan.” 
Setelah emosi kakak mereda, dan ia menunjukkan tanda-tanda mau mendengar kata-kata ibu, barulah bisa disentuh perasaannya untuk menumbuhkan empati kepada adiknya.

Hargai jika kakak mau mengalah
Bila akhirnya kakak mau mengalah memberikan mainan kepada adiknya, orang tua hendaknya memahami bahwa pengorbanan kakak itu bukan suatu hal yang ringan. Bagi anak-anak, bisa mengalah walau dia merasa tak salah adalah kebaikan yang sangat sulit dilakukan, mengingat hingga usia balita rasa keakuan mereka masih cukup tinggi.
Sudah seharusnya bunda memberi penghargaan khusus kepada kakak jika ia berhasil melakukan kebaikan itu. Penghargaan itu bisa dengan ucapan, “Subhanallah, Kakak baik sekali. Pasti nanti Kakak banyak disukai teman.” bunda bisa ajarkan pada adik untuk berterima kasih pada kakak. “Ayo Dik, katakan terima kasih pada Kakak, dia sudah berbaik hati pada kamu.” Bisa pula bunda memberi penghargaan lain berupa pelukan, ciuman, atau sebungkus wafer untuk kakak.  Adakalanya kakak mau mengalah pada adik tetapi masih dengan berat hati. Bibirnya cemberut, matanya memerah menahan tangis, dan ngeloyor pergi dengan kecewa. Dalam kondisi seperti ini mereka butuh ditemani. Butuh dipahami perasaannya.  Maka sebaiknya bunda meluangkan waktu untuk menghibur kakak dulu. Ajak ia bicara baik-baik, beri perhatian, hibur hatinya hingga perasaan mereka bisa lebih enak.

Biasakan segera bermaafan
Lebih baik lagi, jika bunda membiasakan kakak dan adik untuk saling bermaafan. Ini bisa dilakukan jika emosi masing-masing telah mereda. Untuk bermaafan tak perlu diungkit-ungkit siapa yang salah. Yang penting tumbuhkan motivasi untuk minta maaf lebih dulu. Tak ada gunanya memberi nasihat sewaktu pertengkaran terjadi, di saat emosi sedang membara. Orang dewasa pun sulit menerima nasihat jika hati sedang emosi. Itu sebabnya, perlu  dicari waktu yang tepat, yang enak dan santai untuk membicarakan kembali kesalahan-kesalahan yang sempat mereka lakukan saat bertengkar tadi.  Demikianlah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyikapi ‘perang saudara’ antara adik dan kakak.

Semoga bermanfaat.