Selasa, 12 Agustus 2014

Buah hati yang hiperaktif

Bunda  mana yang tidak senang bila melihat anaknya aktif dan ceria. Tapi kalau aktifnya melebihi batas kewajaran anak-anak seusianya, tentu akan membuat Ibu mulai khawatir dan kesulitan untuk menanganinya. Misalnya, saat ingin diberi makan anak selalu berlarian kesana kemari tidak bisa diam, kerap berlompatan ke segala arah tak kenal lelah sampai Ibu kewalahan mengejarnya. Melihat anak yang aktif tingkat tinggi seperti itu, mungkin Ibu menjadi sering memarahinya, membentak, atau bahkan melakukan hukuman fisik (misal: mencubit) agar anak menjadi diam atau tenang.

Tapi Ibu, sebenarnya tindakan seperti itu bukan solusi yang baik. Bagaimanapun direpotkannya kita, anak tidak pernah berniat jahat dengan tindakannya seperti itu. Mereka hanya berekspresi dan menganggapnya sebagai aktivitas yang wajar dan menyenangkan hatinya. Sehingga kasihan sekali kalau dibentak atau dihukum.

Agar dapat bertindak lebih tepat terhadap sikap aktif yang berlebihan atau hiperaktif sang buah hati, ada baiknya kita mengetahui tiga tipe dari hiperaktif sebagai berikut:
1. Tipe hiperaktif implusif
Anak yang mengalami hiperaktif implusif biasanya lemah dalam merespon. Perilaku implusif ditandai dengan melakukan sesuatu yang sulit untuk dikendalikan, seperti terlalu enerjik, lari ke sana ke mari, melompat seenaknya, memanjat-manjat, banyak bicara dan berisik. Selain itu, ia juga biasa melakukan segala sesuatunya tanpa pertimbangan dan sering kali ditunjukkan ketidaksabaran.
2. Tipe hiperaktif inatensi
Biasanya anak dengan hiperaktif seperti ini tidak mampu memusatkan perhatian secara utuh, tidak mampu mempertahankan konsentrasi. Selain itu, mudah beralih perhatian dari satu hal ke lain hal, sering melamun, sulit diajak berbicara atau menerima instruksi karena perhatiannya terus berpindah-pindah, pelupa dan kacau.
3. Tipe hiperaktif kombinasi
Biasanya anak kurang memperhatikan aktifitas dan mengkuti permainan atau dalam menjalankan tugasnya karena perhatiannya mudah terpecah. Selain itu, sering berubahnya pendirian yang ada di diri si anak, dan dalam melakukan sesuatu selalu aktif secara berlebihan.

Nah, bila Ibu memiliki anak hiperaktif, beberapa kiat tersebut mungkin bisa diterapkan:
• Berusaha lebih tegas kepada anak
Ajarkan disiplin pada anak hiperaktif, agar ia dapat mengatur dirinya dengan baik. Dengan cara bagaimana? Yakni memberitahu si anak bahwa Ibu tidak menyukai beberapa tingkah lakunya. Selain itu, Ibu juga bisa melibatkan anggota keluarga untuk menjaga anak secara ketat dan tegas. Namun Ibu, berindak tegas bukan berarti kita lantas sering menghukumnya secara fisik ya. Tetap perlihatkan bahwa Ibu melakukannya karena sayang padanya.
• Disiplin
Sebaiknya Ibu mulai mengajak anak untuk menerapkan pola hidup disiplin. Ibu bisa memberi contoh terlebih dulu, jadikan Ibu sebagai role model (pelaku) agar si anak bisa mengikuti pola hidup disiplin yang sudah Ibu buat. Aturan ini tentu akan membuat si anak lebih fokus pada aturan-aturan yang Ibu berikan. Dalam mengajari anak tentang pola disiplin, jangan bosan untuk terus-menerus mengulangi hal-hal yang dengan cepat dapat dipelajari dan diingat oleh anak normal.
• Menciptakan kegiatan kreatif
Kesibukan orangtua seringkali membuat anak menjadi kurang perhatian. Karena itu luangkan waktu buat anak. Misalnya, mengajak dia melakukan kegiatan kreatif seperti membaca buku, melukis atau menyanyi. Kegiatan ini bisa menenangkan anak yang hiperaktif. Selain itu, ibu juga bisa mengajaknya pergi ke taman agar dia bisa menikmati waktu bermainnya.
• Mengajaknya Berolahraga
Ibu bisa mengajak si buah hati berolahraga selain berguna untuk menyehatkan tubuh juga bisa mengurangi hiperaktif. Salah satu olahraga sederhana yang dapat dilakukan adalah senam di rumah dengan diiringi musik.


Senin, 04 Agustus 2014

Sikecil yang suka memukul

Bunda... pernahkan Anda marah karena ulah anak suka memukul temannya? Memarahi si kecil mungkin dilakukan untuk memberikan efek jera agar ia tidak melakukannya lagi. Hal yang perlu Anda ketahui adalah perilaku anak biasanya merupakan upayanya untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya.

Tapi mengapa harus memukul? Anak yang masih balita, terkadang memang mengeluarkan perilaku agresif seperti menggigit, menendang, mencakar, sampai memukul. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan keinginannya yang tidak terpenuhi atau merasa tidak aman.

Dengan perbendaharaan kata yang masih terbatas, maka tidak heran jika si kecil mengungkapkannya melalui perilaku. Para ahli mengatakan, memukul merupakan reaksi alami ketika seseorang merasa marah atau kesal. Begitu pula yang dialami oleh balita Anda.

Tapi jangan sampai membiasakan si kecil dengan perilakunya tersebut. Bisa-bisa si kecil hanya tahu memukul untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Hal ini tentunya akan berdampak pada sekitarnya. Bisa saja ia jadi dijauhi oleh teman-temannya.

Jika Anda mendapati si kecil suka memukul, jangan Anda justru memukul atau membentaknya. Berilah nasehat saat ia hendak memukul temannya, katakan Anda tidak suka dengan perilakunya. Alihkan perhatiannya.

Cobalah bicara dari hati ke hati dengan si kecil. Saat ia tenang, tanyakan apa yang kerap kali membuatnya marah dan memukul temannya. Ajari ia untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya dengan kata-kata, bukan pukulan.

Dampingilah setiap kali si kecil bermain. Perhatian Anda akan membantunya menjadi anak yang baik. Hindari memukul anak untuk membuatnya jera. Karena hal itu bisa saja dijadikan contoh anak suka memukul temannya.

Selasa, 22 Juli 2014

Puasa dan tumbuh kembang anak

 


Menjalani puasa di bulan Ramadan, semangat berpuasa biasanya tidak hanya dirasakan orang dewasa tetapi juga anak-anak kecil. Mereka ikut bergembira menyaksikan orangtuanya berpuasa serta turut menikmati momen kebersamaan saat sahur dan berbuka.
Bagi orang tua, semangat tersebut adalah kesempatan emas untuk mulai mengenalkan puasa pada anak-anak. Karena puasa memberi dampak positif dalam melatih kesabaran, disiplin dan mengendalikan diri. Namun, banyak kekhawatiran muncul apakah sang buah hati sudah cukup kuat untuk berpuasa dan tidak terganggu tumbuh kembangnya?

Prof. Dr. Hardinsyah, Ahli Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), mengatakan bahwa berdasarkan ilmu tumbuh kembang, fisik anak sudah mampu dilatih untuk berpuasa ketika sudah masuk Taman Kanak-Kanak (TK) atau sekitar usia 5 tahun.
Aktivitas motorik anak memang menguras energi. Namun, selama gangguan kesehatan atau penurunan berat badan yang sangat drastis tidak dialami anak, menurut Hardinsyah tidak masalah dan anak dapat terus dilatih puasa. Asalkan tetap diperhatikan pemenuhan nutrisi anak secara maksimal dan tidak memaksa mereka untuk berpuasa.

Latih dengan Kreatif
Agar ibadah puasa terasa menyenangkan bagi anak, kreatifitas orangtua dibutuhkan misalnya dalam menyajikan menu makanan favorit anak saat sahur, saat menyiapkan makanan berbuka puasa atau ketika menyambut datangnya Ramadan dengan membuat dekorasi di rumah. Kegiatan-kegiatan kreatif ini dapat memancing keingintahuan anak untuk bertanya. Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan orangtua untuk mengenalkan Ramadan dan menjelaskan makna puasa. Namun jika anak belum ikut berpuasa, pengenalan puasa dan ramadan dapat dilakukan dengan melibatkan mereka dalam kegiatan ibadah yang dilakukan saat bulan Ramadan.
Agar puasa tidak terasa berat pada anak, ciptakan juga kegiatan menarik yang tak menguras tenaga. Misalnya, mewarnai, menyusun puzzle, membaca buku cerita, dan sebagainya.

Latih Secara Bertahap
Agar anak terbiasa puasa, ajarkan untuk puasa secara bertahap. Misal, di minggu pertama anak hanya puasa beberapa jam. Minggu selanjutnya, latih berpuasa sampai setengah hari dan dilanjutkan berpuasa hingga waktu berbuka. Setelah anak makin dewasa dan terbiasa puasa, berikan rentang waktu berpuasa lebih lama pada anak. Bila anak belum ingin melakukannya, jangan memarahi mereka. Berikanlah semangat seperti memberi pelukan dan pujian saat anak berhasil bangun pagi untuk sahur. Hal ini akan memotivasi anak untuk berpuasa di hari berikutnya. 
Selamat menyambut bulan Ramadan.

Kamis, 10 Juli 2014

Puasa dan pendidikan karakter anak



Ketika pemerintah tidak atau belum dirasa memenuhi keinginan setiap keluarga untuk melahirkan generasi berkualitas, tidak salah untuk melakukan pendidikan secara mandiri. Pada bulan Ramadhan, saat ada kewajiban berpuasa, adalah momen tepat untuk menanamkan moralitas kepada mereka. Sebab, dalam puasa ada pesan moral yang mampu membentuk seorang anak menjadi manusia sopan, disiplin, jujur, berani, dan peduli ketika berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kelak, ketika mereka telah terbiasa melakukan puasa-kalau puasanya tulus dan ikhlas-pembangunan bangsa yang paradoks itu bisa diubah ke arah yang lebih memihak anak-anak. Mengajak berpuasa
Maka, ajakan berpuasa kepada anak harus mengasyikkan dan tidak membebani. Kendati anak tidak diwajibkan berpuasa, untuk membentuk keluhungan pribadinya tidak salah mengajak mereka berpuasa. Akan tetapi, hal itu harus disesuaikan dengan takaran kemampuan fisik dan psikis anak. Satu cara agar mereka bisa melaksanakan ibadah puasa adalah membatasi waktu berbuka bagi mereka secara bertahap.
Dalam satu hari, misalnya, mereka dibebaskan untuk berpuasa sampai pukul 12.00 dan pada hari lain bisa lebih panjang waktunya daripada hari-hari sebelumnya. Sebagai orangtua, kita juga mesti mengetahui perkembangan usia anak. Dengan demikian, kita dapat mengetahui batas waktu berbuka bagi anak-anak kita sehingga takaran berpuasa bagi mereka diketahui secara tepat. Untuk mengetahui seberapa kuat ketahanan fisik mereka, kita bisa menggali informasi dari buku, majalah anak, koran, dan internet.
Pengetahuan tentang karakteristik fisik dan psikis anak itu akan menjadi bekal bagi pembiasaan puasa sehingga ke depan mereka bertahap menunaikan kewajiban sebagai umat Islam. Misalnya, bagi anak usia 5-7 tahun, puasa tidak bisa dipaksakan harus tamat selama sebulan penuh. Bagi mereka, ada keinginan untuk berpuasa saja sudah merupakan keberhasilan menanamkan kesadaran beragama. Jadi, tidak arif rasanya apabila mereka dibebani harus selesai sampai akhir (maghrib) dan menamatkan puasa selama sebulan penuh.
Agar mereka bersemangat dalam berpuasa, dianjurkan untuk memberikan hadiah yang berfungsi menumbuhkan kesadaran beragama sejak usia dini. Di samping itu, memberikan penjelasan seputar keutamaan puasa juga bisa menggugah mereka untuk menunaikan puasa. Caranya bisa dengan membacakan kisah-kisah teladan nabi, sahabat, dan tokoh yang berjasa bagi agama dan negara. Selain itu, mereka juga bisa diajak menghadiri pengajian khusus untuk anak-anak.
Kalau mereka mendapatkan bimbingan intensif seputar nilai-nilai kebaikan puasa, secara tidak langsung kesadaran agama mereka akan meningkat. Hal ini akan melahirkan kekuatan dalam diri mereka untuk menyelesaikan ibadah puasa sampai maghrib. Maka, yang terpenting dalam menanamkan moral dalam diri anak adalah ajakan berpuasa dilakukan tanpa pemaksaan. Utamanya, jangan menggunakan kekerasan yang akan mengakibatkan mereka merasa tertekan dan terbebani dengan praktik puasa. Ini akan memunculkan kepribadian paradoks, oportunis, atau munafik pada masa dewasa nanti.
Kita tahu bahwa dalam perspektif fikih tidak ada beban kewajiban berpuasa bagi anak-anak dan pemaksaan dalam ajaran Islam adalah sesuatu yang dilarang Tuhan (la iqraha fi al-din). Ketika mereka telah dibiasakan berpuasa sejak dini, saat dewasa nanti mereka akan melaksanakan ibadah puasa secara tulus dan ikhlas. Hasilnya, semoga dapat terbentuk moral yang mulia (al-akhlaq al-karimah) dalam diri mereka kelak.

Senin, 07 Juli 2014

Mendisiplinkan anak puasa sejak dini





Bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan penuh keutamaan bagi umat Islam di dunia, bisa dijadikan moment yang tepat untuk pendidikan disiplin dan akhlak anak sejak dini. Bunda melatih anak puasa, sebagai pendidikan kedisiplinan dan keagamaan di dalam lingkup keluarga. Keluarga merupakan landasan dasar tempat anak belajar baik dari perilaku maupun bimbingan orangtua. Anak merupakan penerus bagi kehidupan bangsa. 

Pendidikan akhlak dan karakter anak sebaiknya mulai distimulasi sejak dini oleh orangtua.
Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, bulan Ramadhan akan benar-benar terasa kekhusyu’an umat Islam dalam menjalankan ibadahnya. Dengan didukung oleh lingkungan masyarakat yang sedang gencar melakukan ibadah, orangtua bisa menerapkan pendidikan akhlak dan agama di dalam lingkup rumah. Menanamkan kesadaran anak puasa Ramadhan dapat dimulai secara bertahap dan menyenangkan. Dengan mengajarkan anak puasa sejak dini, mereka akan terbiasa menjalankan ibadah puasa sebagai sebuah kebiasaan dan bukan lagi menjadi tekanan. Hal ini akan bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan spiritual anak di masa mendatang.

Bunda, mendisiplinkan anak puasa sejak dini bukanlah sebuah kekerasan Ini merupakan pelajaran kedisiplinan tentang nilai-nilai keagamaan. Melatih anak puasa Ramadhan tidak sama dengan mewajibkan mereka berpuasa. Bahkan di dalam Islam sendiri telah disabdakan oleh Rasul-Nya: “Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak-anak yang belum baligh”.

Dalam melatih anak puasa, orangtua harus mempertimbangkan kondisi dan kemampuan mereka. Telah jelas bahwa Islam sendiri tidak menghendaki adanya unsur paksaan dalam mendidik anak. Jadi orangtua akan memberikan motivasi kepada anak-anak dalam cara mendisiplinkan mereka seperti halnya melatih dalam melatih anak puasa Ramadhan.



Kamis, 03 Juli 2014

Manfaat puasa bagi tumbuh kembang anak





Puasa dapat melatih anak untuk mengendalikan emosi. Mendidik anak untuk disiplin, jujur dan melatih lebih sabar karena harus menahan haus dan lapar pada waktu tertentu. Para ahli berpendapat bahwa puasa juga dapat membangun rasa empati pada anak. Dengan berpuasa, anak akan belajar untuk lebih menghargai makanan dan memahami serta berempati kepada saudara-saudaranya yang mungkin tidak bisa makan setiap hari. Selain itu, selama bulan Ramadhan orang tua juga dapat melatih anak untuk beribadah lain seperti shalat berjamaah, mengaji bersama, hafalan doa dan sebagainya. Berpuasa juga bermanfaat menyeimbangkan fungsi tubuh, terutama sistem pencernaan. Dengan berpuasa, tubuh mengalami detoksifikasi dan membuang racun-racun dalam tubuh dan membersihkan alat pencernaan.

Berpuasa juga akan membuat anak menjadi lebih sehat karena konsumsi jajanan tidak sehat berkurang, pola makan akan teratur dan nilai gizinya lebih diperhatikan oleh orang tuanya. Terkait waktu yang tepat untuk mengajarkan berpuasa bahwa mengajarkan anak berpuasa bila sudah siap secara fisik dan mental tanpa ada paksaan dan dilakukan secara bertahap.  anak sebaiknya dapat mulai dilatih berpuasa saat berusia enam hingga tujuh tahun. Meskipun dari segi kesehatan, tidak ada patokan baku kapan seorang anak mulai mampu berpuasa.

Menurut staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Unpad Bandung Prof dr Dedi Soebardja Sp.A mengatakan seorang anak dapat mulai dilatih berpuasa sejak mengetahui mana yang boleh dan tidak, serta mulai bisa bersosialisasi. Biasanya, kemampuan itu dicapai anak saat berusia enam atau tujuh tahun. Selain itu, Wanda mengatakan latihan puasa dapat dilakukan ketika anak telah melewati masa balita. Mengingat pertumbuhan otak yang optimal berlangsung selama masa balita, latihan puasa mulai dapat diterapkan ketika anak telah melewati periode tersebut.

Sabtu, 21 Juni 2014

Buah hati Hiperaktif




Bunda ada dua ketakutan yang menyangkut buah hati anda, autis dan hiperaktif. Jika anaknya terkena autis, ibu akan sangat gugup karena anaknya tak fokus, cenderung pendiam dan sulit. beradaptasi. Jika hiperaktif malah gelisah karena anaknya susah dikendalikan. Padahal, rata-rata anak autis dan hiperaktif punya kecerdasan yang luar biasa.

Bunda, m
engelola anak hiperaktif memang butuh kesabaran yang luar biasa, juga kesadaran untuk senantiasa tak merasa lelah, demi kebaikan si anak. Anak hiperaktif memang selalu bergerak,
nakal, tak bisa berkosentrasi. Keinginannya harus segera dipenuhi. Mereka juga kadang impulsif atau melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Gangguan perilaku ini biasanya terjadi pada anak usia prasekolah dasar, atau sebelum mereka berusia 7 tahun.

Bunda
cemas dan gugup...tentu, tapi jangan takut. Kami punya solusinya....

Periksakanlah buah hati anda
.
Bunda, tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa Anda lakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap Anda. agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Di sini biasanya para ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.

Pahamilah Buah hati anda
.
Bunda,untuk bisa menangani buah hati anda yang hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya, frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti layaknya orang-orang normal lainnya.

Latihlah
kefokusannya.
Bunda, jangan tekan dia, terima keadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan berikan dia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.

Telatenlah menghadapinya
.
Bunda, jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.  Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar.
Jika empat fase di atas telah dapat Anda lewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak Anda sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu Anda dalam menjaganya. Dan kini, masukilah tahap berikutnya, bagaimana Anda harus bekerjasama dengan dia.

Bangkitkan
kepercayaan dirinya.
Bunda, jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.
Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya. Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda berada di titik stabil, sehingga dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat, anak hiperaktif rata-rata
juga sangat sensitif.

Kenali
arah minat dan bakatnya.
Bunda jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini. Dengan begitu, Anda bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.

Mintalah
dia bicara.
Bunda, ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan. Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati

Siap bahu-membahu.
Bunda, jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.

Buah hati  Anda mengidap hiperaktif. Dia tak berbahaya, hanya butuh Sentuhan dan Perhatian yang lebih dari anda. Jika itu dia dapatkan, yakinlah buah hati akan berubah jadi Jenius yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia.