Kamis, 10 Juli 2014

Puasa dan pendidikan karakter anak



Ketika pemerintah tidak atau belum dirasa memenuhi keinginan setiap keluarga untuk melahirkan generasi berkualitas, tidak salah untuk melakukan pendidikan secara mandiri. Pada bulan Ramadhan, saat ada kewajiban berpuasa, adalah momen tepat untuk menanamkan moralitas kepada mereka. Sebab, dalam puasa ada pesan moral yang mampu membentuk seorang anak menjadi manusia sopan, disiplin, jujur, berani, dan peduli ketika berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kelak, ketika mereka telah terbiasa melakukan puasa-kalau puasanya tulus dan ikhlas-pembangunan bangsa yang paradoks itu bisa diubah ke arah yang lebih memihak anak-anak. Mengajak berpuasa
Maka, ajakan berpuasa kepada anak harus mengasyikkan dan tidak membebani. Kendati anak tidak diwajibkan berpuasa, untuk membentuk keluhungan pribadinya tidak salah mengajak mereka berpuasa. Akan tetapi, hal itu harus disesuaikan dengan takaran kemampuan fisik dan psikis anak. Satu cara agar mereka bisa melaksanakan ibadah puasa adalah membatasi waktu berbuka bagi mereka secara bertahap.
Dalam satu hari, misalnya, mereka dibebaskan untuk berpuasa sampai pukul 12.00 dan pada hari lain bisa lebih panjang waktunya daripada hari-hari sebelumnya. Sebagai orangtua, kita juga mesti mengetahui perkembangan usia anak. Dengan demikian, kita dapat mengetahui batas waktu berbuka bagi anak-anak kita sehingga takaran berpuasa bagi mereka diketahui secara tepat. Untuk mengetahui seberapa kuat ketahanan fisik mereka, kita bisa menggali informasi dari buku, majalah anak, koran, dan internet.
Pengetahuan tentang karakteristik fisik dan psikis anak itu akan menjadi bekal bagi pembiasaan puasa sehingga ke depan mereka bertahap menunaikan kewajiban sebagai umat Islam. Misalnya, bagi anak usia 5-7 tahun, puasa tidak bisa dipaksakan harus tamat selama sebulan penuh. Bagi mereka, ada keinginan untuk berpuasa saja sudah merupakan keberhasilan menanamkan kesadaran beragama. Jadi, tidak arif rasanya apabila mereka dibebani harus selesai sampai akhir (maghrib) dan menamatkan puasa selama sebulan penuh.
Agar mereka bersemangat dalam berpuasa, dianjurkan untuk memberikan hadiah yang berfungsi menumbuhkan kesadaran beragama sejak usia dini. Di samping itu, memberikan penjelasan seputar keutamaan puasa juga bisa menggugah mereka untuk menunaikan puasa. Caranya bisa dengan membacakan kisah-kisah teladan nabi, sahabat, dan tokoh yang berjasa bagi agama dan negara. Selain itu, mereka juga bisa diajak menghadiri pengajian khusus untuk anak-anak.
Kalau mereka mendapatkan bimbingan intensif seputar nilai-nilai kebaikan puasa, secara tidak langsung kesadaran agama mereka akan meningkat. Hal ini akan melahirkan kekuatan dalam diri mereka untuk menyelesaikan ibadah puasa sampai maghrib. Maka, yang terpenting dalam menanamkan moral dalam diri anak adalah ajakan berpuasa dilakukan tanpa pemaksaan. Utamanya, jangan menggunakan kekerasan yang akan mengakibatkan mereka merasa tertekan dan terbebani dengan praktik puasa. Ini akan memunculkan kepribadian paradoks, oportunis, atau munafik pada masa dewasa nanti.
Kita tahu bahwa dalam perspektif fikih tidak ada beban kewajiban berpuasa bagi anak-anak dan pemaksaan dalam ajaran Islam adalah sesuatu yang dilarang Tuhan (la iqraha fi al-din). Ketika mereka telah dibiasakan berpuasa sejak dini, saat dewasa nanti mereka akan melaksanakan ibadah puasa secara tulus dan ikhlas. Hasilnya, semoga dapat terbentuk moral yang mulia (al-akhlaq al-karimah) dalam diri mereka kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar