Ketika pemerintah tidak atau belum dirasa
memenuhi keinginan setiap keluarga untuk melahirkan generasi berkualitas, tidak
salah untuk melakukan pendidikan secara mandiri. Pada bulan Ramadhan, saat ada
kewajiban berpuasa, adalah momen tepat untuk menanamkan moralitas kepada
mereka. Sebab, dalam puasa ada pesan moral yang mampu membentuk seorang anak
menjadi manusia sopan, disiplin, jujur, berani, dan peduli ketika berinteraksi
dengan masyarakat sekitar. Kelak, ketika mereka telah terbiasa melakukan
puasa-kalau puasanya tulus dan ikhlas-pembangunan bangsa yang paradoks itu bisa
diubah ke arah yang lebih memihak anak-anak. Mengajak berpuasa
Maka, ajakan berpuasa kepada anak harus
mengasyikkan dan tidak membebani. Kendati anak tidak diwajibkan berpuasa, untuk
membentuk keluhungan pribadinya tidak salah mengajak mereka berpuasa. Akan
tetapi, hal itu harus disesuaikan dengan takaran kemampuan fisik dan psikis
anak. Satu cara agar mereka bisa melaksanakan ibadah puasa adalah membatasi
waktu berbuka bagi mereka secara bertahap.
Dalam satu hari, misalnya, mereka dibebaskan
untuk berpuasa sampai pukul 12.00 dan pada hari lain bisa lebih panjang
waktunya daripada hari-hari sebelumnya. Sebagai orangtua, kita juga mesti
mengetahui perkembangan usia anak. Dengan demikian, kita dapat mengetahui batas
waktu berbuka bagi anak-anak kita sehingga takaran berpuasa bagi mereka
diketahui secara tepat. Untuk mengetahui seberapa kuat ketahanan fisik mereka,
kita bisa menggali informasi dari buku, majalah anak, koran, dan internet.
Pengetahuan tentang karakteristik fisik dan
psikis anak itu akan menjadi bekal bagi pembiasaan puasa sehingga ke depan
mereka bertahap menunaikan kewajiban sebagai umat Islam. Misalnya, bagi anak
usia 5-7 tahun, puasa tidak bisa dipaksakan harus tamat selama sebulan penuh.
Bagi mereka, ada keinginan untuk berpuasa saja sudah merupakan keberhasilan
menanamkan kesadaran beragama. Jadi, tidak arif rasanya apabila mereka dibebani
harus selesai sampai akhir (maghrib) dan menamatkan puasa selama sebulan penuh.
Agar mereka bersemangat dalam berpuasa,
dianjurkan untuk memberikan hadiah yang berfungsi menumbuhkan kesadaran
beragama sejak usia dini. Di samping itu, memberikan penjelasan seputar
keutamaan puasa juga bisa menggugah mereka untuk menunaikan puasa. Caranya bisa
dengan membacakan kisah-kisah teladan nabi, sahabat, dan tokoh yang berjasa
bagi agama dan negara. Selain itu, mereka juga bisa diajak menghadiri pengajian
khusus untuk anak-anak.
Kalau mereka mendapatkan bimbingan intensif
seputar nilai-nilai kebaikan puasa, secara tidak langsung kesadaran agama
mereka akan meningkat. Hal ini akan melahirkan kekuatan dalam diri mereka untuk
menyelesaikan ibadah puasa sampai maghrib. Maka, yang terpenting dalam
menanamkan moral dalam diri anak adalah ajakan berpuasa dilakukan tanpa
pemaksaan. Utamanya, jangan menggunakan kekerasan yang akan mengakibatkan
mereka merasa tertekan dan terbebani dengan praktik puasa. Ini akan memunculkan
kepribadian paradoks, oportunis, atau munafik pada masa dewasa nanti.
Kita tahu bahwa dalam perspektif fikih tidak ada
beban kewajiban berpuasa bagi anak-anak dan pemaksaan dalam ajaran Islam adalah
sesuatu yang dilarang Tuhan (la iqraha fi al-din). Ketika mereka telah
dibiasakan berpuasa sejak dini, saat dewasa nanti mereka akan melaksanakan
ibadah puasa secara tulus dan ikhlas. Hasilnya, semoga dapat terbentuk moral
yang mulia (al-akhlaq al-karimah) dalam diri mereka kelak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar