..Jikalau kita bisa mengatakannya
dengan sangat halus lalu mengapa
kita harus membentak..
Bunda, membentak anak sepertinya
sudah menjadi kebiasaan sebagian orang tua. Saat melihat anak melakukan
kesalahan, atau ketidakpatuhan, orang tua memang sering dibuat jengkel. Secara
refleks, karena emosi, orang tua sering bermaksud ‘menasihati’, tapi diucapkan
dengan nada tinggi. Kebiasaan ini juga lebih sering dilakukan oleh orang tua
yang temperamental.
Bunda, efektifkah menasihati anak
dengan bentakan? Tentu tidak, sebab kalau anak terlalu sering dibentak, maka ia
bisa tumbuh menjadi pribadi yang minder, tertutup, bahkan pemberontak. Ia pun
bisa menjadi temperamental dan meniru kebiasaan orang tuanya yang suka
membentak. Seringkali orang tua baru bertindak ketika kesalahan telah dilakukan
oleh anak. Bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan
terjadi.
Seharusnya orang tua mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sebelum membuat aturan. Jangan menyamakan anak dengan orang dewasa. Orang tua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Jadi, ketika menetapkan apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan pernah menggunakan tolok ukur orang dewasa.
Seharusnya orang tua mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sebelum membuat aturan. Jangan menyamakan anak dengan orang dewasa. Orang tua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Jadi, ketika menetapkan apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan pernah menggunakan tolok ukur orang dewasa.
Bunda, harus diakui orang tua yang
habis kesabarannya sering membentak dengan kata-kata yang keras bila
anak-anak menumpahkan susu di lantai, terlambat mandi, mengotori dinding
dengan kaki, atau membanting pintu. Sikap orang tua tersebut seperti polisi
menghadapi penjahat. Sebaliknya, orang tua sering lupa untuk memberikan
perhatian positif ketika anak mandi tepat waktu, menghabiskan susu dan
makanannya, serta memberesi mainannya. Padahal seharusnya, antara perhatian
positif dengan perhatian negatif harus seimbang.
Bunda, buah
hari anda yang sering diberi perhatian negatif, apalagi dengan teguran
keras atau bentakan, akan mudah tertekan jiwanya. Kemungkinan ia
bisa berkembang menjadi anak yang:
Pribadi Minder
Bunda, Bila anak
selalu dicela dan dibentak dan tak pernah menerima perhatian positif saat ia melakukan
kebaikan maka ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri atau
minder. Akan tertanam dalam jiwanya bahwa ia hanyalah anak yang selalu
melakukan kesalahan, tidak pernah bisa berbuat kebaikan atau menyenangkan orang
lain. Akibatnya, ia sering ragu-ragu atau tidak percaya diri untuk melakukan
atau mencoba sesuatu karena takut salah. Misalnya, ia jadi tidak pede
untuk mengaji atau membaca Al-Quran, gara-gara orang tuanya selalu membentaknya
bila mendengar bacaannya salah.
Pribadi Cuek
Bunda, anak
yang selalu dibentak juga bisa berkembang menjadi anak yang cuek dan tidak
peduli. Akibat sudah terlalu sering menerima bentakan, ia malah jadi apatis,
tidak peduli. Ia pun sering mengabaikan nasihat orang tuanya. Mungkin
saat dibentak atau dimarahi ia terlihat diam mendengarkan, tapi
sesungguhnya kata-kata orang tuanya hanya dia anggap angin lalu, masuk ke
telinga kanan lalu keluar lewat telinga kiri.
Pribadi Tertutup
Bunda, Orang
tua yang temperamental dan suka membentak, tentu akan menakutkan bagi anak. Ya,
anak menjadi takut pada orang tuanya sendiri, sehingga ia tumbuh menjadi
pribadi yang tertutup. Ia tak pernah mau berbagi cerita dengan orang tuanya.
Buat apa berbagi kalau nanti ujung-ujungnya ia akan disalahkan? Dengan
demikian, komunikasi antara orang tua dan anak tidak bisa berjalan lancar. Hal
ini tentu berbahaya, karena bila menghadapi masalah dan hanya disimpan sendiri,
jiwa anak bisa sangat tertekan.
Pribadi Pemberontak
Bunda, anak
yang memilik sikap menentang atau memberontak bisa digolongkan menjadi 3 tipe
yaitu :
Pertama, tipe penentang aktif. Mereka menjadi anak yang keras kepala, suka
membantah dan membangkang apa saja kehendak orang tua. Mereka marah karena
merasa tidak dihargai oleh orang tua. Untuk melawan jelas tak bisa, karena ia
hanya seorang anak kecil. Maka ia pun berusaha menyakiti hati orang tuanya. Ia
akan senang bila melihat orang tuanya jengkel dan marah karena ulahnya. Semakin
bertambah emosi orang tua, semakin senanglah ia.
Kedua, tipe penentang dengan cara halus. Anak-anak ini jika diperintah memilih sikap diam, tapi tidak juga memenuhi perintah. Sebagaimana Abid yang disuruh mandi oleh ibunya, tapi tak juga mau beranjak dari tempatnya bermain. Saat ia ditinggalkan sendiri di kamar mandi pun, ia tidak segera mandi, malah bermain air atau kapal-kapalan.
Kedua, tipe penentang dengan cara halus. Anak-anak ini jika diperintah memilih sikap diam, tapi tidak juga memenuhi perintah. Sebagaimana Abid yang disuruh mandi oleh ibunya, tapi tak juga mau beranjak dari tempatnya bermain. Saat ia ditinggalkan sendiri di kamar mandi pun, ia tidak segera mandi, malah bermain air atau kapal-kapalan.
Ketiga, tipe selalu terlambat. Anak seperti ini baru mengerjakan
suatu perintah setelah terlebih dahulu melihat orang tuanya jengkel, marah, dan
mengomel atau membentak-bentak karena kemalasannya. Misalnya Angga yang belum
mau beranjak dari tempat tidurnya bila belum dibentak atau diomeli ibunya.
Pribadi Pemarah dan Tempramen
Bunda, anak
sering meniru sikap orang tuanya. Bila orang tua suka marah atau ‘main bentak’
karena sebab-sebab sepele, maka anak pun bisa berbuat hal yang sama. Jangan
heran bila anak yang diperlakukan demikian, akan berlaku seperti itu terhadap
adiknya atau teman-temannya.
“Bunda buah
hati adalah amanah yang harus dibentuk menjadi pribadi yang baik, dan keluarga
adalah lingkungan pertama yang harus membentuknya. Dan anak akan pertama kali
mencontoh prilaku orang tuanya, maka berilah contoh yang baik pada buah hati
anda”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar