Ketika Fikrah sedang asyik bermain dengan
mainan barunya, tiba-tiba Ahza
adiknya, merebutnya dengan paksa. Fikrah berusaha mempertahankan mainannya
tetapi Ahza pun tetap ngotot mencengkeramnya. Karena jengkel, sang kakak pun
ambil jalan pintas dengan memukul adiknya keras-keras. Fikrah tentu tak bisa disalahkan bila
mempertahankan mainannya sekuat tenaga. Sedangkan Ahza pun, dalam kaca mata
orang dewasa dianggap tak salah karena memang belum mengerti. Sifat
egosentrisnya masih terlalu besar sehingga ingin memiliki barang apa saja yang
mereka sukai. Akan tetapi di mata kakaknya yang juga masih kecil, adiknya
jelas-jelas salah karena merebut mainan miliknya. Anak sekecil fikrah belum
paham terhadap sifat egosentris yang dimiliki adiknya, bahkan juga
masih dimilikinya. Yang ia pahami bahwa mainan itu adalah miliknya dan ia
berhak mempertahankannya.
Menghadapi hal
tersebut, kadang bunda tak tahan dengan tangis adik, kemudian langsung menyuruh
kakaknya mengalah.Kebijakan seperti itu jelas berat sebelah, karena kurang
menghargai pola pikir kakak yang masih kecil juga. Jika bunda memaksa kakak
untuk selalu mengalah, banyak akibat negatif yang akan terjadi, seperti:
- Kakak merasa dirinya tak memiliki harga diri di mata bunda.
- Adik tak pernah belajar mengetahui hal yang benar.
- Kakak menyimpan dendam pada adik dan membalasnya nanti jika ada kesempatan.
- Jika terjadi perkelahian lagi, adik cenderung mengandalkan tangisnya untuk mengadu kepada bunda agar dibela.
Lalu, bagaimana tindakan yang seharusnya dilakukan oleh ibu/orang tua. Bunda
yang bijaksana akan mencoba memahami pertengkaran ini dengan melihat persoalan
dari kaca mata kedua pihak, yaitu dengan memahami bagaimana perasaan adik, juga
perasaan kakak.
Beberapa hal yang bisa dilakukan di
antaranya:
Jangan Salahkan Satu Pihak
Memang kakak
bersalah karena memukul adiknya keras-keras, dan adik pun salah karena merebut
mainan yang bukan miliknya. Karena itu, jangan hanya menyalahkan salah satu
pihak. Jika bunda sedang emosi, lebih baik ibu menahan diri dengan diam.
Jika tidak kuat diam, menyalahkan kedua pihak sekaligus masih lebih baik
daripada hanya menyalahkan salah satunya. Pertengkaran kakak dengan adiknya
adalah satu perkembangan wajar, sesuai dengan fase perkembangan psikologis
mereka. Sangat sulit untuk menemukan siapa sebenarnya yang menjadi biang keladi
pertengkaran, karena semua merasa benar. Apalagi pola berpikir ibu, kakak, dan
adik sangat berbeda, sesuai dengan fase perkembangan usia. Jadi arti kebenaran
menurut kakak, adik, serta ibu pun kerap berbeda. Maka adalah sulit untuk
menemukan siapa yang salah, dan tindakan itu pun tak perlu dilakukan.
Jangan Paksakan Kakak untuk Selalu Mengalah
Kakak juga
masih kecil, maka pola berpikirnya yang menganggap adiknya salah pun harus
dipahami. Tentu tak adil jika menyuruhnya untuk selalu mengalah. Hal itu akan
berpengaruh buruk terhadap perkembangan jiwanya, karena merasa
tidak pernah mendapatkan keadilan.
Hargai Jika Kakak Benar
Kita tentu
akan sakit hati, bila merasa benar tetapi disalahkan oleh orang lain. Sulit
sekali menerima hal itu dengan lapang dada. Apalagi jika orang menyalahkan
kita dengan cara memaksa. Karena itulah, bunda juga harus memahami, kakak
pun mempunyai hak untuk mempertahankan mainannya. Perkara dia mau meminjamkan
mainannya kepada adik, itu
tergantung kebaikan
hatinya. Jangan menyalahkan kebenaran yang diyakini kakak, tetapi sentuhlah
empati sang kakak untuk mau berbaik hati kepada adiknya. Kebenaran yang
diyakini kakak harus ibu akui. Contohnya dengan berkomentar, “Sayang, kenapa
merebut mainan kakak, kalau adik mau pinjam, bilang dulu sama kakak yaa.” Dengan
penghargaan seperti itu, berarti ibu sudah menghormati harga diri sang kakak.
Ini memiliki arti yang sangat besar pada psikologis kakak. Karena merasa
dirinya dihargai, selanjutnya ia justru lebih mudah menerima pendapat orang
lain, lebih mudah memahami perasaan adiknya, dan lebih lanjut akan tumbuh
empatinya.
Sebaliknya, jika kebenaran yang diyakini kakak disalahkan oleh bunda, jangan
harap kakak mau menerima kata-kata bunda selanjutnya. Apalagi kakak sedang
dalam keadaan emosi. Karena merasa dirinya benar tetapi tidak diakui, kakak
merasa perasaannya tidak dipahami, sehingga ia semakin jengkel. Kalaupun ia
menurut untuk mengalah, itu ia lakukan dengan sangat terpaksa.
Tunjukan ketidakmengertian sang adik
Jika bunda
telah berhasil menghargai pendapat yang diyakini kakak, jangan lupa pula untuk
menghargai pendapat yang diyakini adik. Kalau adik meyakini bahwa setiap barang
yang ia sukai harus ia dapatkan, itu bukanlah pendapat yang salah untuk usianya.
Jadi, bunda pun tak bisa serta merta menyalahkan adik. Lebih baik ajaklah kakak
untuk mau memahami ketidakmengertian adiknya tersebut. Ini akan mudah dilakukan
jika emosi kakak sedikit mereda setelah ibu bisa menghargai perasaannya. Kepada
kakak bisa diberi pengertian, “Adik kecil itu memang belum mengerti, Sayang. Ia
selalu ingin merebut yang dia inginkan. Dulu waktu kamu masih kecil juga suka
begitu.Kita nasihati saja dia pelan-pelan.”
Setelah
emosi kakak mereda, dan ia menunjukkan tanda-tanda mau mendengar kata-kata ibu,
barulah bisa disentuh perasaannya untuk menumbuhkan empati kepada adiknya.
Hargai jika kakak mau mengalah
Bila
akhirnya kakak mau mengalah memberikan mainan kepada adiknya, orang tua
hendaknya memahami bahwa pengorbanan kakak itu bukan suatu hal yang ringan.
Bagi anak-anak, bisa mengalah walau dia merasa tak salah adalah kebaikan yang
sangat sulit dilakukan, mengingat hingga usia balita rasa keakuan mereka masih
cukup tinggi.
Sudah seharusnya bunda memberi penghargaan khusus kepada kakak jika ia berhasil melakukan kebaikan itu. Penghargaan itu bisa dengan ucapan, “Subhanallah, Kakak baik sekali. Pasti nanti Kakak banyak disukai teman.” bunda bisa ajarkan pada adik untuk berterima kasih pada kakak. “Ayo Dik, katakan terima kasih pada Kakak, dia sudah berbaik hati pada kamu.” Bisa pula bunda memberi penghargaan lain berupa pelukan, ciuman, atau sebungkus wafer untuk kakak. Adakalanya kakak mau mengalah pada adik tetapi masih dengan berat hati. Bibirnya cemberut, matanya memerah menahan tangis, dan ngeloyor pergi dengan kecewa. Dalam kondisi seperti ini mereka butuh ditemani. Butuh dipahami perasaannya. Maka sebaiknya bunda meluangkan waktu untuk menghibur kakak dulu. Ajak ia bicara baik-baik, beri perhatian, hibur hatinya hingga perasaan mereka bisa lebih enak.
Sudah seharusnya bunda memberi penghargaan khusus kepada kakak jika ia berhasil melakukan kebaikan itu. Penghargaan itu bisa dengan ucapan, “Subhanallah, Kakak baik sekali. Pasti nanti Kakak banyak disukai teman.” bunda bisa ajarkan pada adik untuk berterima kasih pada kakak. “Ayo Dik, katakan terima kasih pada Kakak, dia sudah berbaik hati pada kamu.” Bisa pula bunda memberi penghargaan lain berupa pelukan, ciuman, atau sebungkus wafer untuk kakak. Adakalanya kakak mau mengalah pada adik tetapi masih dengan berat hati. Bibirnya cemberut, matanya memerah menahan tangis, dan ngeloyor pergi dengan kecewa. Dalam kondisi seperti ini mereka butuh ditemani. Butuh dipahami perasaannya. Maka sebaiknya bunda meluangkan waktu untuk menghibur kakak dulu. Ajak ia bicara baik-baik, beri perhatian, hibur hatinya hingga perasaan mereka bisa lebih enak.
Biasakan segera bermaafan
Lebih baik
lagi, jika bunda membiasakan kakak dan adik untuk saling bermaafan. Ini bisa dilakukan
jika emosi masing-masing telah mereda. Untuk bermaafan tak perlu
diungkit-ungkit siapa yang salah. Yang penting tumbuhkan motivasi untuk minta
maaf lebih dulu. Tak ada gunanya memberi nasihat sewaktu pertengkaran terjadi,
di saat emosi sedang membara. Orang dewasa pun sulit menerima nasihat jika hati
sedang emosi. Itu sebabnya, perlu dicari waktu yang tepat, yang enak dan
santai untuk membicarakan kembali kesalahan-kesalahan yang sempat mereka
lakukan saat bertengkar tadi. Demikianlah
beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyikapi ‘perang saudara’ antara adik
dan kakak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar