Menumbuhkan
kepatuhan pada anak
|
Bunda,
diartikel sebelumnya telah membahas tentang tidak efektifnya mendidik anak
dengan bentakan apalagi jika itu dilakukan untuk menumbuhkan kepatuhan,
bahkan akan terjadi sebaliknya yakni
akan berpengaruh negatif bagi kepribadian buah hati anda, lalu bagaimanakah cara yang baik untuk
menumbuhkan kepatuhan pada buah hati anda
Beri penjelasan pada anak
Jelaskan
pada anak dengan bahasa yang ia mengerti, mengapa suatu hal diperintahkan dan
hal lain dilarang. Jangan sekali-sekali memberi keterangan dusta dalam hal
ini. Jika anda mengatakan sesuatu dengan berdusta hanya untuk menenangkan
anak, maka suatu saat buah hati anda tidak akan lagi percaya terhadap
perkataan anda.
Perintahkan sebatas kemampuannya
Perintah di
luar kesanggupan dan kemampuan anak justru bisa menyebabkan krisis syaraf
(neurotic) dan buruk perangai. Ada pepatah mengatakan, “Jika engkau ingin
ditaati, maka perintahkanlah apa yang dapat dipenuhi.” Sebaiknya perintah itu
dibagi-bagi dan tuntutan pelaksanaannya pun bertahap. Untuk
mengetahui sampai di mana batas kemampuan anak sesuai perkembangan usianya,
diperlukan pengetahuan tersendiri. Sebaiknya orang tua memahami perkembangan
anak ini
Tidak berdusta atau menakut-nakuti
Kadang
orang tua mengatakan akan membelikan ini atau itu jika anak mematuhi
perintahnya, tapi ternyata setelah anak patuh, orang tua tidak menepati
janjinya. Itu berarti orang tua berdusta, dan bisa jadi anak tidak akan
percaya lagi pada orang tuanya. Kedustaan seperti ini harus dihindari.
Selain itu, orang tua juga sering menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang seharusnya berguna baginya. Itu dilakukan karena ingin anaknya segera memenuhi perintah mereka. Misalnya menakut-nakuti anak dengan dokter, suntikan dan sebagainya. Ketakutan anak pada hal-hal tersebut bisa terbawa hingga ia dewasa. Jangan bertentangan dengan naluri anak
Gharizah atau naluri adalah kekuatan
terpendam dalam diri manusia yang mendorongnya untuk melakukan beberapa
pekerjaan tanpa berlatih terlebih dahulu. Janganlah orang tua melarang anak
bermain, atau membongkar dan memasang sesuatu. Jangan pula melanggar
kebiasaan anak kalau tidak ingin mereka menggunakan jerit tangis sebagai senjatanya. Lebih baik
gharizah itu diarahkan sedemikian rupa sehingga anak bisa mengatur dirinya
sendiri. Misalkan diberi perintah, “TPA nanti mulai ba’da asar lho, sekarang
kan udah setengah tiga. Adik udah aja ya mainnya, dilanjutin besok aja,
sekarang mandi dulu, kan udah mau adzan…”
Bunda ungkapan itu tidak melarang anak bermain, dan tidak melanggar kebiasaan mereka bermain di tengah hari. Pemberian ‘masa terbatas’ ini dimaksudkan agar anak bisa mengatur jadwal kegiatannya sendiri, dan akan sangat menolong untuk melatih anak disiplin waktu. Selain itu mereka merasa dianggap mampu untuk mengatur dirinya sendiri tanpa harus didikte begini dan begitu.
“ Bunda
menumbuhkan kepatuhan pada buah hati memanglah tidak mudah, banyak hal-hal
yang membuat pribadi buah hati kita tercemar, misalnya lingkungan dan
sebagainya. Namun anda sebagai orang tua adalah kunci utamanya, anda harus
aktif dalam menjawab dari setiap pernyataan dari hati kecilnya”
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar