Bunda...mungkin
kita mengira, anak-anak balita itu selain lugu juga tak tahu apa-apa tentang
alam semesta kehidupannya. Tapi adalah kesalahan besar jika kita
menganggap mereka bodoh, karena mereka mempunyai daya tangkap dan daya
ingat yang jauh lebih hebat dari yang kita pikirkan. Dari sekian banyak
pertanyaannya yang dia ajukan dalam sehari, pasti ada yang masuk dan direkam
baik-baik dalam otaknya. Ya, balita memang memiliki kemampuan menangkap
pengetahuan dengan hebat, karena otak mereka belum dipengaruhi untuk memikirkan
hal-hal lain.
Sebuah
pertanyaan saja, bagi anak ibarat mempelajari sebuah bab pelajaran di sekolah
sebagaimana yang dipelajari kakak-kakaknya. Maka jawabannya akan sangat
berarti untuk mengasah ketajaman otaknya. Yang perlu dikhawatirkan justru kalau
anak terlalu pendiam, dan tidak ingin tahu banyak tentang segala sesuatu. Ia
tidak pernah bertanya, dan tidak tertarik dengan adanya benda baru. Anak
seperti ini harus ‘dipancing’ untuk membangkitkan rasa ingin tahunya. Orangtua
bisa memulai dengan mengajukan pertanyaan, “Dede..., mengapa kalau siang tampak
terang dan malam tampak gelap?” Atau, “Kamu dan ayam sama-sama punya kaki.
Mengapa kamu bisa menendang bola, ayam tidak?” Dengan pertanyaan menarik
diharapkan anak akan terangsang, kemudian menanyakan segala sesuatu. Makin
sering orangtua memancing dengan berbagai pertanyaan menarik, tentu anak akan
meniru tindakan orangtua.
Untuk mengembangkan kemampuan anak bertanya, bimbinglah anak untuk mempraktikkan kunci utama pertanyaan, yaitu 5W+1H. Yang dimaksud 5W+1H adalah what (apa), when (kapan), where (di mana), who (siapa), why (mengapa) dan how (bagaimana)
Selain itu orang tua juga bisa menyediakan buku bacaan atau majalah islami untuk anak-anak. Melihat gambar-gambarnya yang menarik dan berwarna-warni, bisanya anak-anak akan tertarik untuk mempertanyakan apa yang ia lihat. Jika anak tetap belum banyak bertanya seperti yang kita harapkan, maka orangtua yang harus aktif menyakan segala sesuatu tentang gambar-gambar atau kisah di buku tersebut. Yang mesti disadari, proses ini membutuhkan waktu dan memerlukan kesabaran. Semoga kita memiliki putra-putri yang shalih dan pintar.
Agar anak
memiliki aqidah yang lurus sejak dini, maka sejak kecil ia harus dididik
tentang aqidah yang benar. Salah satunya dengan mengajarkan rukun iman
pada anak. Anak tidak cukup diajari untuk menghafalnya, tetapi juga perlu diberi
penjelasan dengan bahasa yang ia pahami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar