Jumat, 30 Mei 2014

Sikecil dan Perintahnya





“Bunda saya  tidak suka mengakuinya, tetapi anak  lelaki  saya sangat  pengatur dan suka memerintah. Dia memeberikan perintah kepada teman-temannya dan ingin semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya. Jika dia tidak mengubah “semangat asertif yang berlebihan” sekarang, dia tidak akan punya teman sama sekali. Dia selalu mengendalikan, jadi bagaimana saya mengubah anak saya seperti ini agar dia lebih diterima oleh teman dan lingkungannya?”

Mengapa sikap anak yang suka memerintah harus berubah
Anak yang suka memerintah menunjuk dirinya sendiri menjadi satu-satunya yang berwenang, mereka membuat peraturan, memilih kegiatan, dan memutuskan rencana permainan. Sangat jarang mereka mau mendengarkan pendapat atau kekuatiran teman sebayanya. Meskipun keterampilan mengatur itu suatu saat dapat berguna menjadikannya pemimpin dan CEO yang kuat, untuk saat sekarang anak-anak seperti itu biasanya tidak disukai oleh teman sebayanya.
Walaupun anda tidak ingin menghalangi rasa percaya diri anak atau kesediaannya mengambil wewenang dan tanggung jawab, anda tentunya ingin membantunya mengubah sikap diktator dan mendominasi agar anak dapat mempertimbangkan kebutuhan orang lain, serta lebih menghargai perasaan dan keinginan orang lain. Dengan begitu tentu saja akan mendorongnya menjadi lebih disukai dan lebih berhasil dalam kehidupan sosial.
Ada cara tertentu bagi orang tua untuk mengubahnya. Anda dapat melihat anak memiliki bawaan sebagai pemimpin dan dia bisa menjadi seseorang yang berwenang, memikul tanggung jawab dan menyelesaikan banyak hal. Namun ingat, seorang pemimpin sejadi mempertimbangkan kebutuhan orang lain, mendengarkan orang lain dan memiliki tujuan positif yang menguntungkan semua pihak, bukan hanya dirinya sendiri.
Tanda-tanda anak yang suka memerintah
Berikut ini tanda-tanda peringatan bahwa sikap anak anda yang suka memerintah itu mempengaruhi perkembangan emosional dan sosialnya. Untuk penilaian yang lebih akurat, amati interaksi anak Anda dengan anak lain dalam berbagai situasi dan tempat (sekolah, tetangga dan lingkungan sekitar).
  • Anak anda menentukan kegiatan, membuat rencana, dan menciptakan rencana permainan.
  • Dia mulai memerintah Anda dan menentukan apa yang harus Anda lakukan.
  • Semua harus berjalan sesuai caranya, dia hanya bermain sesuai peraturannya.
  • Dia jarang bernegosiasi atau mengalah untuk menerima keinginan orang lain, tidak mau berkompromi.
  • Teman-teman tidak membalas teleponnya, mengundangnya lagi, atau ingin dia datang.
  • Orang tua, pelatih, atau guru menjulukinya “bos”
  • Tidak tanggap bahwa orang lain merasa disingkirkan atau diremehkan akibat perilakunya.
Bagaimana Mengatasi Perilaku Anak Suka Mengatur
A.  Identifikasi apa yang terjadi
Langkah pertama Anda adalah menemukan penyebab anak menjadi diktator kecil, sehingga Anda dapat menemukan cara terbaik menahan perilakunya dan memperbaiki kemampuannya yang berhubungan. Periksa sebab-sebab yang mungkin sesuai dengan anak Anda:
·        Meniru. Anak anda terbiasa diatur dan diperintah, sehingga dia meniru yang dialaminya.
·   Mendapat penguatan. Seseorang secara sengaja (atau tidak sengaja) memperkuat sikap itu dengan menyebutnya asertif, percaya diri, atau mudah bergaul, atau memiliki kapasitas sebagai pemimpin, atau memang dia dibiarkan demikian.
·   Dituntut untuk memegang kekuasaan. Dia diberi tanggung jawab untuk menjaga yang lain, mungkin bergaul dengan anak-anak yang kurang diarahkan dan membutuhkan seseorang untuk diandalkan.
·  Tidak aman. Anak Anda menutupi rasa tidak aman, keyakinan diri yang rendah atau perfeksionisme.
·      Membutuhkan Kekuatan. Dia membutuhkan rasa memiliki kekuatan sebagai kompensasi menjadi urutan terbawah dalam keluarga atau teman-teman.
·   Diganggu. Anak Anda sering didominasi oleh orang lain, dia mencoba melampiaskannya di tempat bermain.
·    Kurang pengalaman sosial. Dia benar-benar tidak tahu cara menyampaikan pendapat kepada pihak lain dengan cara yang baik.
·        Tidak memiliki suara. Gagasan, perasaan, dan kebutuhannya sering diabaikan.
·   Kurang empati. Anak Anda dalam tahap perkembangan egosentris atau kurang kemampuan memandang dari perspektif dari orang lain atau kemampuan memandang dari perspektif orang lain atau memikirkan kemauan orang lain.
B. Tekankan Konsensus.
Para diktator perlu belajar tentang demokrasi, jadi tekankan demokrasi di rumah Anda. Perkuat sebuah peraturan baru untuk keputusan-keputusan keluarga tertentu (seperti: pilihan liburan dan restoran, sewa DVD, acara TV yang akan ditonton, permainan makna yang akan dimainkan), semua anggota keluarga harus disurvei. Anak Anda perlu belajar demokrasi secara langsung agar dapat menerapkannya bersama teman-temannya.
C. Minta kerja sama.
Penelitian menunjukan bahwa anak-anak yang menunjukan perilaku kooperatif seperti berbagi, bergiliran, mempertimbangkan permintaan teman sebayanya, dan sebagainya, biasanya karena orang tua mereka dengan jelas menekankan tuntutannya. Jadi sempatkan untuk memberi tahu anak aturan dasar untuk berbagi dan bekerja sama, serta beri penjelasan. Minta anak menerapkannya. Pastikan Anda juga menekankan mengapa perilaku suka memerintah tidak tepat dan mengecewakan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar